Kamis, 05 Maret 2020

Karya Sastra Melayu Klasik: Pengertian, Karakteristik, Jenis, Unsur Intrinsik Dan Contohnya

Momod ads.id
Sastra melayu klasik bergotong-royong merupakan karya sastra indonesia yang dihasilkan antara tahun 1870 hingga dengan tahun 1942, yang pada waktu itu berkembang dilingkungan masyarakat sumatera menyerupai "minangkabau,langkat, tapanuli  dan tempat sumatera lainnya", orang tionghoa dan masyarakat indo-eropa.

Karya sastra pertama yang terbit sekitar tahun 1870 masih dalam bentuk syair, hikayat dan terjemahan novel barat. Sastra tersebut disebut sebagai sastra melayu klasik lantaran sastra tersebut berkembang di tempat melayu pada masa sebelum dan setelah islam hingga mendekati tahun 1920-an di masa balai pustaka.

Catatan tertulis yang pertama kali ditemukan menggunakan bahasa Melayu Kuno yang kabarnya berasal dari era ke-7 Masehi, bahkan sastra tersebut tercantum pada beberapa prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya di pecahan selatan Sumatera dan wangsa Syailendra di beberapa tempat di Jawa Tengah. Tulisan ini menggunakan karakter Pallawa. Selanjutnya, bukti-bukti tertulis lainnya bermunculan di banyak sekali tempat, meskipun dokumen terbanyak kebanyakan mulai berasal dari era ke-18.

Pengertian Sastra Melayu Klasik

Sastra Melayu Klasik yaitu sastra usang yang lahir pada masyarakat usang atau tradisional yakni suatu masyarakat yang masih sederhana dan terikat oleh susila istiadat.

Dalam karya sastra disebutkan bahwa sastra usang berkembang sebelum periode 20-an.
Pada awalnya bentuk sastra merupakan dongeng rakyat yang disampaikan secara lisan dari verbal ke verbal dan turun temurun. Menurut A. Ikram, dalam bukunya Filologi Nusantara (Jakarta: Pustaka Jaya 1991, hal. 220) Sekarang dongeng rakyat ditulis dan diterbitkan menjadi buku, menyerupai halnya cerpen atau novel.

Jenis Karya Sastra Melayu Klasik

Jenis karya sastra melayu klasik berdasarkan bentuknya terbagi atas dua pecahan atau bentuk. Yaitu sastra puisi dan sastra prosa

Berbentuk puisi

Karya sastra klasik dalam bentuk puisi juga mempunyai banyak sekali macam jenis. Diantaranya adalah;

a. Mantra
yaitu rangkaian kata yang mengandung rima danirama yang dianggap mengandung kekuatan gaib, biasanya diucapkan oleh seorang dukun atau pawang untuk melawan atau menandingi kekuatan mistik lainnya. Namun, hakikat mantra itu sendiri yaitu doa yang diucapkan oleh seorang pawang dalam keadaan trance ‘kerasukan’. Di dalam mantra yang penting bukan makna kata demi kata, melainkan kekuatan bunyi yang bersifat sugestif.

Contoh mantra:
Pulanglah engkau kepada rimba sekampung,
Pulanglah engkau kepada rimba yang besar,
Pulanglah engkau kepada gunung guntung,
Pulanglah engkau kepada sungai yang tiada berhulu,
Pulanglah engkau kepada bak yang tiada berorang,
Pulanglah engkau kepada mata air yang tiada kering,
Jikalau kau tiada mau kembali, matilah engkau.

b. Bidal 
Bidal yaitu kalimat singkat yang mengandung pengertian atau kiasan dan membayangkan sindiran.

1. Contoh Bidal Ungkapan
- Tangan panjang artinya suka mencuri
- Ringan tangan artinya suka membantu
- Besar kepala artinya sombong

2. Contoh Bidal Pepatah 
- Anjing menyalak tidak menggigit artinya verbal besar tetapi penakut.
- Besar pasak daripada tiang artinya besar pengeluaran dari pendapatan.

3. Contoh Bidal Perumpamaan 
- Bagai durian dengan mentimun artinya orang kecil melawan orang besar niscaya akan kalah.
- Seperti kerbau di cocok hidung artinya orang yang terbelakang selalu berdasarkan perintah orang lain.

 4. Contoh Bidal Tamzil 
- Ada ubi ada talas, ada kecerdikan ada balas

5. Contoh Bidal Ibarat 
- Bagai kerakap tumbuh di batu, hidup segan mati tak hendak          
- Ibarat bunga, segar digunakan layu dibuang

6. Contoh Bidal Kata arif
- Senangkanlah hatimu dengan menyenangkan hati orang lain.

7. Contoh Bidal Pameo 
- Sekali merdeka tetap merdeka.

c. Talibun 
Talibun yaitu sejenis puisi usang menyerupai pantun yang mempunyai sampiran dan isi, tetapi lebih dari 4 baris ( mulai dari 6 baris hingga 20 baris). Berirama abc-abc, abcd-abcd, abcde-abcde, dan seterusnya.

Contoh Talibun :
Kalau anak pergi ke pekan
Yu beli belanak beli
Ikan panjang beli dahulu
Kalau anak pergi berjalan
Ibu cari sanakpun cari
Induk semang cari dahulu.


d. Seloka
Seloka merupakan bentuk puisi Melayu Klasik, berisikan pepetah maupun perumpamaan yang mengandung senda gurau, sindiran bahkan ejekan. Biasanya ditulis empat baris menggunakan bentuk pantun atau syair, terkadang sanggup juga ditemui seloka yang ditulis lebih dari empat baris.

Contoh seloka 4 baris:
anak pak dolah makan lepat,
makan lepat sambil melompat,
nak hantar kad raya dah tak sempat,
pakai sms pun ok wat ?

Contoh seloka lebih dari 4 baris:
Baik kecerdikan emak si Randang
Dagang kemudian ditanakkan
Tiada berkayu rumah diruntuhkan
Anak pulang kelaparan
Anak dipangku diletakkan
Kera dihutan disusui

e. Gurindam 
Gurindam yaitu satu bentuk puisi Melayu usang yang terdiri dari dua baris kalimat dengan irama simpulan yang sama, yang merupakan satu kesatuan yang utuh. Baris pertama berisikan semacam soal, persoalan atau perjanjian dan baris kedua berisikan jawabannya atau akhir dari persoalan atau perjanjian pada baris pertama tadi.

Contoh :
Pabila banyak mencela orang
Itulah tanda dirinya kurang
Dengan ibu hendaknya hormat
Supaya tubuh sanggup selamat

f. Pantun
Pantun merupakan sejenis puisi yang terdiri atas 4 baris bersajak a-b-a-b, a-b-b-a, a-a-b-b. Dua baris pertama merupakan sampiran, yang umumnya wacana alam (flora dan fauna); dua baris terakhir merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun tersebut. 1 baris terdiri dari 4-5 kata, 8-12 suku kata.

Contoh :
Kayu cendana diatas batu
Sudah diikat dibawa pulang
Adat dunia memang begitu
Benda yang jelek memang terbuang

g. Karmina 
Karmina atau dikenal dengan nama pantun kilat yaitu pantun yang terdiri dari dua baris. Baris pertama merupakan sampiran dan baris kedua yaitu isi. Memiliki pola sajak lurus (a-a). Biasanya digunakan untuk memberikan sindiran ataupun ungkapan secara langsung.

Contoh Karmina 1
Dahulu ketan kini ketupat
Dahulu pendekar kini ustad

Contoh Karmina 2
Pergi ke rawa ke muara pula
Sudah tak juara tak sholat pula

Contoh Karmina 3
Buah nagka bentuknya bulat
Sudah renta bangka belum ingat akhirat

Contoh Karmina 4
Kelapa diparut yummy rasanya
Biar pertunya gendut baik hatinya

Contoh Karmina 5
Ikan lele beli di pasar
Persoalan sepele jangan diumbar

h. Syair
Syair yaitu puisi atau karangan dalam bentuk terikat yang mementingkan irama sajak. Biasanya terdiri dari 4 baris, berirama aaaa, keempat baris tersebut mengandung arti atau maksud penyair (pada pantun, 2 baris terakhir yang mengandung maksud). Syair berasal dari Arab.

Contoh syair:
Syair Ken Tambuhan
Lalulah berjalan Ken Tambuhan
diiringkah penglipur dengan tadahan
lemah lembut berjalan pelahan-lahan
lakunya manis memberi kasihan
Tunduk menangis segala puteri
Masing-masing berkata sama sendiri
Jahatnya perangai permaisuri
Lakunya menyerupai jin dan peri
 Syair Abdul Muluk
Berhentilah kisah raja Hindustan
Tersebutlah pula suatu perkataan
Abdul Hamid Syah Paduka Sultan
Duduklah Baginda bersuka-sukaan
Abdul Muluk putera Baginda
Besarlah sudah bangsa muda
Cantik menjelis usulnya syahda
Tiga belas tahun umurnya ada
Parasnya elok amat sempurna
Petak majelis bijak laksana
Memberi hati bimbang gulana
Kasih kepadanya mulia dan hina
       
i.Stanza 
Stanza yaitu sajak delapan seuntai yang setiap baitnya terdiri atas delapan buah kalimat. Stanza disebut juga oktaf. Persajakan stanza atau oktaf tidak berurutan.

Contoh stanza:  
PERTANYAAN ANAK KECIL
Hai kayu-kayu dan daun-daunan!
Mengapakah kau bersenang-senang?
Tertawa-tawa bersuka-sukaan?
Oleh angin dan tenang, serang?
Adakah angin tertawa dengan kami?
Bercerita anggun menyenangkan kami?
Aku tidak mengerti kesukaan kamu!
Mengapa kau tertawa-tawa?

Hai kumbang bernyanyi-nyanyi!
Apakah yang kau nyanyi-nyanyikan?
Bunga-bungaan kau penuhkan bunyi!
Apakah yang kau bunyi-bunyikan?
Bungakah itu atau madukah?
Apakah? Mengapakah? Bagaimanakah?
   Mengapakah kau tertawa-tawa?

j. Soneta 
Soneta berasal dari kata Sonetto dalam bahasa Italia yang terbentuk dari kata latin Sono yang berarti ‘bunyi’ atau ‘suara’. Adapun syarat-syarat soneta (bentuknya yang asli) yaitu sebagai berikut.


  • Jumlah baris ada 14 buah.
  • Keempat belas baris terdiri atas 2 buah quatrain dan 2 buah terzina.
  • Jadi pembagian bait itu: 2 × 4 dan 2 × 3.
  • Kedua buah kuatrain merupakan kesatuan yang disebut stanza atau oktaf.
  • Kedua buah terzina merupakan kesatuan, disebut sextet.
  • Octav berisi lukisan alam; jadi sifatnya objektif.
  • Sextet berisi curahan, jawaban, atau kesimpulan sesuatu yang dilukiskan dalam oktaf; jadi sifatnya subjektif.
  • Peralihan dari oktaf ke sektet disebut volta.
  • Jumlah suku kata dalam tiap-tiap baris biasanya antara 9 dan 14 suku kata.
  • Rumus dan sajaknya a-b-b-a, a-b-b-a, c-d-c, d-c-d.

Contoh Soneta: 
GEMBALA
Perasaan siapa ta’kan nyala (a)
Melihat anak berlagu dendang (b)
Seorang saja di tengah padang (b)
Tiada berbaju buka kepala (a)
Beginilah nasib anak gembala (a)
Berteduh di bawah kayu nan rindang (b)
Semenjak pagi meninggalkan sangkar (b)
Pulang ke rumah di senja kala (a)
Jauh sedikit sesayup hingga (a)
Terdengar olehku bunyi serunai (a)
Melagukan alam nan semok permai (a)
Wahai gembala di segara hijau (c)
Mendengarkan puputmu menurutkan kerbau (c)
Maulah saya menurutkan dikau (c)

Berbentuk Prosa

Seperti halnya prosa dalam sastra modern, prosa dalam karya sastra klasik juga mempunyai unsur-unsur tokoh, penokohan, alur, latar, setting, amanat, dan teman.

Karya sastra klasik yang berbentuk prosa terdiri dari cerita, dongeng binatang, sejarah, mite, dan legenda.

Jenis prosa lama:
Prosa sastra melayu klasik juga mempunyai banyak sekali macam jenisnya, diantaranya yaitu;

a. Dongeng 
Dongeng yaitu cerita-cerita zaman purba yang berbentuk prosa yaitu wacana dongeng khayal dan penuh keajaiban. Dongeng ini disampaikan dari verbal kemulut.

b. Mite
Mite berasal dari bahasa Yunani, mythos yaitu wacana kehidupan makhluk halus atau hantu menyerupai jin, kuntilanak, dan dewi-dewi.

Misalnya: Si Kelambai, dan Setan Penanggalan

c.Fabel
Fabel ialah dongeng yang menceritakan hewan yang hidup sebagai insan berbuat dan berbicara menyerupai binatang.

Pada umumnya fabel mempunyai tendens didaktis. Fabel ini sangat populer di Indonesia. Di tiap-tiap tempat mempunyai pelaku-pelaku hewan yang berlainan.

Di Jawa dan di Melayu dipusatkan pada planduk (kancil), di Sunda pada kura-kura, di Toraja pada simpanse hantu.

Contoh: Hikayat Sang Kancil
·        
d. Legenada
Legenda ialah dongeng yang berisikan wacana dongeng terjadinya nama-nama tempat, gunung, sungai, danau, dan sebagainya.

Misalnya: Danau Gunung Tangkuban Perahu, Terjadinya Danau Toba, Terjadinya Danau Maninjau.
   
e. Dongeng
Ini sengaja menceritakan kebodohan seseorang. Apa yang dilakukannya serba salah, sehingga menimbulkan humor atau kejenakaan.

f. Sage
Sange ialah dongeng yang mengandung unsur sejarah.
 Misalnya: Hang tuah Joko Tingkir.

g. Hikayat
Berasal dari bahasa Arab, yang berarti cerita. Hikayat ini menyerupai dengan dongeng, penuh khayal, isinya wacana kehidupan sekitar istana, oleh lantaran itu sanggup disebut dongeng istana.

Pelaku utama dalam hikayat yaitu raja, permaisuri, putra raja yang gagah berani, serta putrinya yang canti jelita.

Hikayat Melayu:   Hikayat hang Tuah, Hikayat Si
 
h. Sejarah atau Silsilah.
Penulis sejarah dalam sastra usang ialah pegawai istana, yang berisikan wacana asal usul raja dan kejadian-kejadian penting, susila istiadat.

Contoh:
(1) Sejarah melayu – konon dikarang oleh Tun Sri Lanang.
(2) Hikayat Raja – Raja Pasai.
(3) Silsilah Bugis.
(4) Sejarah Danau Maninjau.

Ciri atau karakteristik karya sastra melayu klasik

Karya sastra melayu klasik sangat jauh berbeda dengan karya sastra modern, untuk mengenal apakah sebuah karya sastra merupakan karya melayu klasik atau karya sastra modern, harus mengetahui ciri-cirinya, untuk karya sastra melayu klasik ciri-cirinya yaitu anonim, bertema istana sentris, bernilai budaya lokal dan disebar secara lisan, uraiannya yaitu sebagai berikut:

1. Anonim

Anonim dalam artian tidak diketahui siapa pengarangnya, ini disebabkan lantaran tempo dulu tidak banyak orang yang mengejar popularitas sehingga pengarangnya lebih fokus untuk menyajikan maha karya yang menitikberatkan pada fungsi cerita.

Beberapa referensi dari karya sastra melayu klasik  pada umumnya terdapat di setiap cerita-cerita klasik, menyerupai "Hikayat hang tuah", Hikayat raja indra", "hikayat indra bangsawan", "Hikayat malim demam"

2. Bertema Istana sentris

Jenis ceritanya berlatar belakang istana. Tokohnya biasanya raja atau pangeran yang sakti dan kisahnya mengenai percintaan. Akhir dongeng selalu bahagia.

3. Bernilai budaya lokal

Ciri yang dikala dari karya sastra melayu klasik yaitu penciptaan karya sastra melayu klasik biasanya mengusung budaya lokal, sehingga dari Cerita kaya sastra melayu klasik pembaca bisa menerima citra moral masyarakat yang hidup pada jaman dulu

4. Disebar secara lisan

Ciri yang terakhir ialah disebarkan secara lisan. penyebab utamanya yaitu  pergerakan zaman dahulu sangatlah lambat jikalau dibandingkan dengan konvoi masyarakat di zaman modern ini. Oleh lantaran itu, penyebaran budaya dan dongeng secara lisan akan lebih mempercepat tersebarnya dongeng dibandingkan dengan menggunakan media tulisan. Selain itu, melalui budaya lisan, masyarakat juga bisa lebih intens memperlihatkan nilai-nilai faktual nan terdapat di dalam dongeng sehingga pesan moral yang terdapat di dalamnya akan hingga kepada pendengar dengan lebih cepat dan efektif.

5. Didaktis

Memberikan pesan mendidik kepada masyarakat baik pesan moral maupun pesan keagamaan atau religius.

6. Tradisional

Mempertahankan kebiasaan masyarakat jaman dulu atau susila istiadat

7. Klasik imitatif, 

Bersifat tiruan atau kebiasaan tiru-meniru yang turun-menurun.

8.Universal

Dapat berlaku dimana saja, kapan saja, siapa saja.

Jenis Karya sastra melayu klasik

Dilihat dari jenisnya karya sastra melayu klasik  dibagi menjadi 2 jenis yaitu prosa dan syair, prosa yaitu semacam cerpen sedangkan syair yaitu semacam puisi.


Unsur Instrinsik karya sastra melayu klasik

Unsur intrinsik pada karya sastra melayu klasik tidak jauh berbeda dengan unsur instrinsik yang terdapat pada karya sastra modern yang meliputi tema, tokoh dan penokohan, latar, alur, sudut pandang, dan amanat.

1. Tema

Tema yaitu gagasan atau inspirasi utama yang mendasari sebuah karya sastra atau cerita. Di karya sastra melayu klasik pada umumnya tema yang dianggat yaitu berkisar antara istana dan kerajaan, namun terkadang  tema lainya sering masuk kedalam cerita.

2. Tokoh dan Penokohan

Tokoh dan penokohan yang terdapat dalam karya sastra Melayu klasik berkisar hewan yang berbudi pekerti, wacana pangeran, anak miskin yang menjadi raja, dan  cerita lainnya yang dianggap bisa mewakili sifat dan ciri insan pada zaman dahulu.

3. Latar

Latar yaitu keterangan mengenai ruang, waktu serta suasana terjadinya peristiwa-peristiwa di dalam suatu karya sastra. Atau definisi latar yang lainnya yaitu unsur intrinsik pada karya sastra yang mencakup ruang, waktu serta suasana yang terjadi pada suatu insiden didalam karya sastra.

4. Alur

Alur yaitu struktur rangkaian kejadian-kejadian dalam sebuah dongeng yang disusun secara kronologis. Atau definisi alur yaitu merupakan rangkaian dongeng semenjak awal hingga akhir.


4. Sudut Pandang

Sudut pandang yaitu cara pengarang menempatkan dirinya terhadap dongeng atau dari sudut mana pengarang memandang ceritanya. Berikut ini beberapa sudut pandang yang sanggup digunakan pengarang dalam bercerita.

  • Sudut pandang orang pertama, sudut pandang ini biasanya menggunakan kata ganti saya atau saya
  • Sudut pandang orang ketiga, sudut pandang ini biasanya menggunakan kata ganti orang ketiga menyerupai dia, ia atau nama orang yang dijadikan sebagai titik berat cerita.
  • Sudut pandang pengamat serba tahu, Dalam hal ini pengarang bertindak seakan-akan mengetahui segala insiden yang dialami tokoh dan tingkah laris tokoh.
  • Sudut pandang campuran, (sudut pandang orang pertama dan pengamat serba tahu). Pengarang mula-mula menggunakan sudut pandang orang pertama. Selanjutnya serba tahu dan pecahan simpulan kembali ke orang pertama.

5. Amanat

Amanat ialah pesan moral yang berisi pelajaran dan buah pikir yang hendak disampaikan pengarang lewat karya sastra. Amanat tersebut bisa bercerita langsung, bisa pula implisit atau secara tak pribadi lewat dialog, tokoh, atau unsur-unsur lain dalam referensi karya sastra Melayu klasik.

Iutlah artikel tentang Karya Sastra Melayu Klasik: Pengertian, Karakteristik, Jenis, Unsur Intrinsik dan Contohnya, supaya bermanfaat.


 
close